Awal saya kelas 3 SMA, saya sempat dipusingkan oleh kemana selajutnya saya akan menuntut ilmu. Karena saya senang dengan pelajaran Kimia-Biologi dan ingin masuk PTN, saya memutuskan untuk mendaftar di beberapa tempat.

Teknik Kimia, Teknik Industri, Kimia, Farmasi, Perminyakan, IT, Gizi ITB-UI-UNJ serta AGB IPB pun mulai saya lirik. Awalnya ortu saya agak aneh dengan keputusan saya, karena kebanyakan jurusan yang saya minati itu ilmu teknik bukan ilmu murni. Memang sih keilmuan tersebut masih dalam ilmu pasti, namun agak kurang lazim jika seorang gadis kuliah di jurusan teknik di mata ortu saya. Namun, mereka tetap yakin saya mampu melanjutkan studi saya disana. Berbagai upaya mulai dari try out hingga berbagai macam tes saya ikuti, tapi saya hanya mampu diterima di Gizi UI dan AGB IPB. Saya bingung, mengapa saya belum bisa diterima di jurusan Teknik?

Saya belum menyerah, hingga akhirnya surat undangan USMI datang ke sekolah…….

Saya melihat beberapa jurusan (tentunya selain AGB) di IPB yang sesuai dengan minat dan bakat saya. Saya sharing dengan guru, keluarga hingga ke teman-teman saya. Akhirnya, saya ingin mengambil keilmuan yang belum terpikirkan oleh orang-orang di sekitar saya namun kajian tentang ilmu tersebut sangatlah krusial dan strategis. Ya, saya memilih jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) IPB. Sempat saya disindir oleh teman-teman dekat maupun yang kurang dekat tentang jurusan yang saya pilih tersebut (dinilai karena memang saya doyan makan ataupun terlalu idealis memilih jurusan tersebut). Terserah, menurut saya buruk di mata mereka belum tentu buruk di mata Allah SWT.

Mereka belum terpikir oleh kajian ilmu dalam teknologi pangan tersebut. Teknologi pangan, menurut saya tidak hanya kita mengolahnya tetapi juga memperhatikan proses yang terlibat dalam bahan pangan asalnya sehingga bisa bermanfaat dan diserap baik oleh tubuh kita melalui proses metabolisme. Terutama di negara kita, pangan merupakan bidang ilmu yang sangat berharga di mata masyarakat karena pangan juga memberikan hajat hidup orang sebagai kebutuhan dan hak yang primer. Saya juga ingin mengenal lebih jauh tentang pangan fungsional. Sejak saat itulah semua pihak (keluarga, guru hingga teman) berbalik mendukung keputusan saya.

Saat pengumuman USMI pun tiba, awalnya saya ragu apakah saya diterima atau tidak. Namun, hari itu, ketika anak-anak kelas 3 sedang sibuk try out, tiba-tiba guru BK saya mendatangi meja kelas saya dan memberikan undanga USMI tersebut dan tak lupa memberi ucapan selamat secara langsung. Ya Allah, saat itu juga saya langsung menangis terharu, shalat serta sujud syukur di mushola sekolah. Hati saya bergetar hebat, dan pada saat yang bersamaan pula semua pihak langsung mendoakan serta memberikan ucapan selamat kepada saya.

ITP, we are the best!! ITP, kompak!! ITP, we are the best, kompak YES!!!! :D

Nama                  : Karina Putri Wardani (Putri)

NRP                     : F24090015

Jenis Kelamin : Perempuan

TTL                      : Jakarta, 3 Maret 1991

Agama                : Islam

Hobi                    : Membaca, travelling, sport

Asal                     : DKI Jakarta

Pendidikan      :

1997-2003 SD Al-Azhar Kelapa Gading

2003-2006 SLTP Al-Azhar Kelapa Gading

2006-2009 SMA Negeri 72 Jakarta

2009-sekarang Institut Pertanian Bogor, Fakultas Teknologi Pertanian, Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan

Prestasi             :

2001 Juara 3 Lomba Pop Singer SD Al-Azhar Kelapa Gading

2002 Juara 2 Lomba Mental Aritmatika Sempoa Kelapa Gading

2007 Penyisihan Kata Perorangan Putri Kejuaraan Karate Nasional SBY Cup INKAI Sekoci 989 Jakarta

2008 Juara 3 Kata Beregu Putri Junior Kejuaraan Karate Nasional SBY Cup INKAI Sekoci 989 Jakarta

Liburan semester genap ini mungkin terlihat sama saja dengan liburan-liburan lainnya,hanya saja liburan kali ini adalah liburan yang cukup panjang. Banyak kegiatan yang dapat diisi pada liburan kali ini,seperti pulang kampung,ikut SP (semester pendek),bahkan ada yang ikut kepanitiaan OH 47 ataupun MPKMB 47. Pilihan-pilihan tersebut tentunya kita mengambilnya dengan keputusan yang matang,bukan terpaksa.
Tapi,baru hari pertama saya ada di rumah,banyak sekali pesan-pesan yang masuk dari teman,hanya untuk menanyakan SP.Wah,saya bingung mau menjawab yang mana dulu dan jawab seperti apa.

Jujur,saya agak berat hati melihat teman-teman saya seperti itu,padahal beberapa hari sebelum pulang ke rumah,saya bilang dan menegaskan kepada mereka,setelah UAS selesai saya mau pulang ke rumah.

Apa mereka kurang atau bahkan tidak mengerti apa yang telah mereka dengar dari temannya sendiri? apa mereka mendengar tapi dengan sedikit “terpaksa”?